Rabu, 06 Mei 2015

Niccolo Machiavelli : Ada Saatnya Kebijaksanaan Terbesar Adalah Berpura-pura Menjadi Bodoh



TAK seorang pun yang pernah memamerkan begitu banyak kecerdasan, atau dianggap sangat bijak dalam menanggapi berbagai macam tindakan, seperti Junius Brutus yang layak dianggap demikian karena kepura-puraannya menjadi bodoh. Dan meskipun Titus Livius hanya memberikan satu alasan yang mendorongnya untuk berbuat demikian, yakni agar ia dapat hidup dengan lebih aman dan memelihara garis keturunannya, sekalipun kita dapat memahami dengan baik alasannya, kita akan percaya ia masih memiliki alasan lain yang dengan menghindari pengawasan, ia memiliki sebuah kesempatan lebih baik untuk menghancurkan raja dan membebaskan negaranya saat kesempatan tersebut muncul. Dan apa yang sesungguhnya dipikirkannya dapat terlihat, pertama, dari interpretasinya atas ramalan Apollo, ketika ia lebih suka untuk tunduk menyembah dan mencium bumi, berharap dapat mengambil hati para dewa demi rencananya; dan setelah itu, ketika Lucretia meninggal, di tengah-tengah ayah, suami, dan kerabatnya yang lain, dialah orang pertama yang menarik pisau dari dadanya dan membuat semua orang yang hadir bersumpah sejak saat itu untuk tidak memperbolehkan satu orang pun menjadi raja di Roma.

Semua orang yang tidak puas dengan hukum mereka akan mengambil sebuah pelajaran dari contoh Brutus ini; mereka akan mengukur dan menimbang baik-baik kekuatan mereka, dan jika cukup kuat untuk menyatakan diri sebagai musuhnya dan memulai perang melawan penguasa, maka mereka akan berusaha dengan segala cara memenangkan persahabatan dengannya, dan untuk tujuan ini ia menggunakan semua cara yang mungkin, seperti menyetujui cita rasanya dan memberikan segala sesuatu yang memberinya kesenangan. Keintiman seperti itu akan menjamin kekeliruan Anda tidak mengundang bahaya apa pun, dan memampukan Anda berbagi kesenangan yang berasal dari nasib baik penguasa, sehinggga pada saat yang sama dapat memberi Anda dukungan untuk memuaskan dendam Anda.

Benar, beberapa orang berkata bahwa orang seharusnya tidak terlalu dekat dengan penguasa karena akan terlibat juga dalam keruntuhannya, tetapi juga tidak jauh darinya agar ketika ia runtuh, Anda dapat mengembangkan keberuntungan Anda sendiri. Jalan tengah ini tidak diragukan lagi merupakan hal terbaik yang dapat dikejar, tetapi saya percaya hal-hal yang telah digambarkan di atas mustahil untuk dilakukan—Anda harus menjauh sepenuhnya dari penguasa, atau melibatkan diri Anda dengan sangat dekat padanya; dan siapa pun yang berusaha dengan cara lain yang sama sekali berbeda mengundang bagi dirinya sendiri bahaya yang konstan. Perkataan seperti ini, ”Saya tidak peduli pada apa pun; saya tidak menginginkan kehormatan atau kekayaan; semua yang saya inginkan hanyalah hidup dengan damai tanpa masalah," juga tidak benar baginya—karena alasan-alasan seperti itu tidak akan diterima.

Manusia yang hidup dengan menyesuaikan pada kondisi tidak dapat memilih cara hidup, bahkan jika mereka memilihnya dengan sukarela tanpa ambisi apa pun, mereka tidak akan dipercaya; dan ketika berusaha melakukannya, mereka tidak akan diizinkan.

Maka dari itu, nasihat ini berguna bahwa pada saat-saat itu lebih baik berpura-pura bodoh, seperti yang dilakukan Brutus; dan hal ini cukup mudah dilakukan, seperti rnemuji-muji, berbincang-bincang, mengamati, dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan cara berpikir Anda, demi hanya sekadar menyenangkan penguasa. Dan seperti telah saya katakan mengenai kecerdasan Brutus dalam memulihkan kebebasan Roma, izinkan saya menceritakan kekejaman yang dilakukannya untuk mempertahankan kekuasaannya.


Sumber : http://icanjambi.blogspot.com___ Niccolo Machiavelli ── DISKURSUS, Bab II, Halaman 310-312, Cetakan Pertama, Agustus 2003, Penerbit Bentang Budaya, Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar